Sabtu, 18 Mei 2013

Gamelan Gong Gede

Gamelan Gong ini dinamakan Gong Gede (besar) karena memakai sedikitnya 30 (tiga puluh) macam instrumen berukuran relatif besar (ukuran bilah, kendang, gong dan cengceng kopyak adalah barung gamelan yang terbesar yang melibatkan antara 40 (empat puluh) - 50 (lima puluh) orang pemain, demikian dikutip dari artikel Arya Tangkas Kori Agung, Gong Gede.
 
Sebagai seni karawitan, dijelaskan dalam kutipan artikel ISI Denpasar, Gamelan Gong Gede merupakan perpaduan unsur-unsur budaya lokal yang sudah terakumulasi dari masa ke masa.

Unsur budaya Bali tercermin pada penggunaan instrumen dari perangkat gamelan Bali dan busana yang dipergunakan oleh para penabuh (jero gamel).
 
Budaya lokal tampak pada penggunaan tradisi-tradisi Bali seperti :
  • Tabuh-tabuh yang memakai laras pelog dan sesaji
  • Para penabuhnya didominasi dengan memakai kostum penabuh seperti ; ikat kepala (udeng) dipakai warna hitam, bajunya dipakai warna putih disisinya memakai safari hitam berisi simbol, memakai saput orange, dan ditambah dengan membawa keris atau seselet. Istilah jero gamel tidak jauh berbeda dengan juru gamel.
Kalau dilihat dari fungsinya semuanya ini berarti tukang gamel, yang sudah melekat sebagai bagian dari identitas diri seseorang. Instrumen Bentuk instrumen gamelan Gong Gede ada dua jenis yakni :
  1. Berbentuk bilah
  2. Berbentuk (moncol). 
Menurut Brata, instrumen yang berbentuk bilah ada dua macam : bentuk bilah bulig, dan bilah mausuk. Bentuk bilah bulig bisa disebut dengan : metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin.

Untuk instrumen yang berbilah seperti bilah metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin dan bulig terdapat dalam instrumen gangsa jongkok penunggal, jongkok pengangkem ageng, dan jongkok pengangkep alit (curing).

Instrumen-instrumen ini bilahnya dipaku atau sering disebut dengan istilah gangsa mepacek. Sedangkan bentuk bilah yang diistilahkan merai, meusuk, dan meakte terdapat pada instrumen pengacah, jublag, dan jegogan. Instrumen-instrumen ini bilahnya digantung yaitu memakai tali seperti jangat.

Instrumen yang bermoncol dapat dikelompokan menjadi dua yakni :
  1. Moncol tegeh (tinggi)
  2. Moncol endep (pendek). 
Contoh instrumen yang berpancon tinggi seperti; riyong ponggang, riyong, trompong barangan, dan tropong ageng (gede). Sedangkan instrumen yang berpencon pendek (endep) antara lain kempli, bende, kempul, dan gong.

Begitu juga halnya dengan bentuk reportoar gending Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, berbentuk lelambatan klasik yang merupakan rangkaian dari bagian-bagian gending yang masing-masing mempunyai bentuk urutan sajian.

Adapun urutan dari bagian-bagian bentuk reportoar gending dari masing-masing bentuk reportoar adalah sebagai berikut :
  1. Gending gilak (gegilakan) terdiri dari bagian gending-gending kawitan dan pengawak. 
  2. Gending tabuh pisan terdiri dari bagian gending kawitan, pengawak, ngisep ngiwang, pengisep, dan pengecet. 
  3. Gending tabuh telu, terdiri dari bagian gending kawitan dan pengawak. Bentuk reportoar gending tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus mempunyai bagian gending yang sama yaitu kawitan (pengawit), pengawak, pengisep (pengaras), dan pengecet.
  4. Gending pengecet terdapat sub-sub bagian gending yang urutan sajiannya adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, pemalpal tabuh telu, pengawak tabuh telu. Alternatif yang lain dari susunan sajian sub bagian gending dalam pengecet ini adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, dan gilak atau gegilakan. 
Bentuk reportoar gending Gong Gede dapat ditentukan oleh jumlah pukulan kempul dalam satu gong, misalnya tabuh pat terdapat empat pukulan kempul dalam satu gongan pada bagian gending pengawak dan pengisap. Demikian juga pada bentuk-bentuk gending tabuh pisan (besik), tabuh telu, tabuh nem dan tabuh kutus. 

Disebutkan pada Pesta Kesenian Bali untuk pertama kali pada tahun 1979, Gamelan Gong Gede mengiringi sendratari dipentaskan oleh SMKI dengan cerita Mahabrata yang mengambil judul “Sayembara Dewi Ambara”, salah satu iringan musik atau gamelannya memakai Gamelan Gong Gede.
 ***

Sejarah Singkat Awal Kemunculan Seni LukisTradisional Bali

            Menurut catatan sejarah Bali kemunculan seni rupa di Bali diawali dari sebuah desa kecil yang bernama desa Kamasan. salah satu desa yang terletak di Kabupaten Klungkung. Seni lukis Wayang (tradisional ) ini berkembang di Kamasan dan daerah lain di Bali sejak zaman kerajaan Majapahit antara abad ke-14 sampai abad ke-18 yang saat itu Pulau Bali di kuasai oleh para Dalem, raja–raja keturunan Sri Krisna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit. selama Dinasti Kepakisan memegang tampuk kerajaan, Bali mengalami kejayaanya.Sejarah mencatat kekuasan Raja Bali saat itu pernah meliputi pesisir jawa timur, Salah satu dalam yang terkenal adalah Sri Waturenggong yang pernah membangun istananya di Desa Gelgel yang dikenal sebagai puri Swecapura. Seni dan budaya saat itu juga mengalami pencerahan Karena sang raja pada saat itu juga menggemari seni budaya. Dalem Waturenggong pernah menjadi penata urusan pemerintahan dan keamanan negara. Kemudian dihadiahkan sekotak wayang oleh kerajaan Majapahit. Dan Sri Waturenggong ingin mempertahankanya lewat seni lukis, sehinga disuruhlah para abdinya untuk melukis wayang dan menyebarkanya keseluruh daerah di Bali.
 Kini kita mengenal lukisan tradisi Wayang Kamasan yang menjadi induk seni lukis tradisional Bali. Seni lukis wayang disini disebut dengan seni lukis tradisional Bali karena seni lukis Bali ini adalah warisan dari leluhur yang sudah berlansung lama dan di lakoni terus meneru sampai sekarang.
** Pengertian Tradisi; Sesuatu yang di lakoni terus menerus dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. sehingga sesuatu yang kita lakoni terus menerus di masa sekarang dan dapat di lestarkan di masa depan juga akan di sebut dengan sesuatu yang tradisional di masa depan.
Penulis ; Nyoman Suartawan.
Tari Barong dan Tari Kecak
Bukan hanya keindahan alamnya saja yang menarik dari Bali, namun keagungan tradisi masyarakatnya juga banyak menarik bahkan banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali. Sebagaimana diketahui Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat, bahasa, dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali. Ialah Tari Barong dan Tari Kecak yang menjadi salah satu tarian tradisional khas Bali yang sudah terkenal kemana-mana. Apa menariknya dari kedua tarian ini? Kedua tarian ini bisa dikata sebagai ikon kesenian tradisional Bali yang diangkat ke level nasional bahkan internasional. Seringkali kedua tarian ini dijadikan sebagai media promosi efektif paket-paket wisata di Bali oleh berbagai agen dan biro perjalanan wisata. Bahkan hampir seluruh agen maupun biro perjalanan wisata ke Bali selalu mengajak tamunya untuk menyaksikan Tari Barong dan Tari Kecak ini. Pada umumnya, kedua tarian ini diadakan oleh sebuah kelompok (Sakeha) seni tari tradisional yang ada di setia-setiap desa di Bali. Seperti di Desa Batubulan misalnya, terdapat beberapa Sakeha yang memiliki jenis tarian yang sama dengan Sekeha lainnya. Perbedaan diantara kelompok-kelompok itu ada pada bentuk pelayanan dan tempat pertunjukkannya saja. Pada setiap pertunjukkan di Batubulan, biasanya tarian pertama yang digelar adalah Tarian Barong yang digabung dengan Tari Keris sehingga keduanya dikenal dengan Tari Barong dan Tari Keris.
Tari Barong
Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Barong vs Rangda ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Barong dilambangkan dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah manifestasi dari kejahatan. Tari Barong biasanya diperankan oleh dua penari yang memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan Rangda berupa topeng yang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing di mulutnya.

Tari Kecak
 Tari Kecak pertama kali diciptakan pada tahun 1930 yang dimainkan oleh laki-laki. Tari ini biasanya diperankan oleh banyak pemain laki-laki yang posisinya duduk berbaris membentuk sebuah lingkaran dengan diiringi oleh irama tertentu yang menyeruakan “cak” secara berulang-ulang, sambil mengangkat kedua tangannya. Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.
Selamat Menikmati!